Bahagia dan Sukses


Kesuksesan itu tidaklah di rasakan tapi dicari dan diperjuangkan…
Kebahagiaan itu tidaklah dicari, tapi dirasakan…
Bila kehidupan mencari kebahagiaan dan merasakan kesuksesan..
Maka bersiaplah merasakan keterasingan dan menggapai keterpurukan…

Manusia


manusia terlahir sebagai makhluk yang bodoh
maka Allah mengajarkan …
ketika kita belajar bukanlah untuk menjadi pintar
melainkan sekedar mengurangi kebodohan …

Pengawasan Salah Kaprah


“Bila tidak ada yang mengisinya, KPK sebaiknya dibubarkan”, dikutip dari pernyataan Ketua DPR RI-periode 2010-2014, Dr. Marzuki Ali. Pernyataan yang demikian sederhana namun mampu mendatangkan kecaman yang luar biasa. Coba tengok beberapa komentar dari para tokoh seperti Febri Diansyah, peneliti ICW yang menyebut logika Marzuki ini telah jungkir balik, bahkan ada beberapa pernyataan masyarakat melalui akun twitter yang ditayangkan di TV One yang meminta dari pada membubarkan KPK lebih baik membubarkan DPR.

Bila saya diminta berkomentar terhadap pernyataan Marzuki Ali, maka saya sangat setuju dengan syarat. Saya sangat menyadari bahwa perspektif yang dibangun dari ide pengawasan lahir karena sejatinya manusia mempunyai resiko melakukan kesalahan, jadi perlu diawasi dan diingatkan. Dengan demikian institusi-institusi yang inti programnya berupa pengawasan merupakan suatu yang sine qua non, menjadi sesuatu yang harus ada. Tapi tidakkah kita berfikir lebih mendalam bahwa ide ini telah memunculkan distrust di tengah-tengah kita. Apa jadinya bila kita membangun sebuah peradaban bila satu sama lain tidak ada yang saling mendukung melainkan saling curiga. Berapa cost yang harus dikeluarkan dari ketidakpercayaan ini, terlalu besar dan terlalu berharga untuk dibebankan pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara. Pengawasan yang lahir dari ketidakpercayaan hanya akan memunculkan ketidakpercayaan. Maka tidaklah heran bila lembaga pengawasan di Indonesia sangat banyak bak jamur yang terus berdiaspora. Sungguh ironi bila kita mengetahui dana yang seharusnya untuk biaya pembangunan harus habis terserap pada sektor pengawasan. Terlebih efek domino yang ditimbulkan dari ketidakpercayaan yang selalu melahirkan ketidakpercayaan, dari satu institusi pengawasan yang harus diawasi oleh institusi pengawasan lainnya tanpa ada titik akhir. Seperti angka 1 (satu) ketika harus dibagi 0 (kosong)

Maka pernyataan Marzuki menjadi oase yang akan meredakan kedahagaan di antara kita. Kehausan akan kepercayaan dan amanah dari seseorang. Sudah saatnya kita membangun saling percaya di antara kita. Ada baiknya bila kita mau memperbaiki diri kita sendiri daripada diperbaiki oleh orang lain. Introspeksi, pengendalian internal, dan self recovery bukankah suatu yang fitrah yang dimiliki setiap manusia yang mempunyai budi. Bila dahulu rasul mengajarkan para sahabatnya terminologi ihsan yang menyebutkan “kondisi atau kapasitas di mana kita dapat merasakan dan melihat kehadiran Tuhan, namun bila kita tidak sampai pada kondisi ini maka kita harus yakin bahwa Tuhan selalu melihat dan mengawasi kita” dan juga praktik yang dilakukan para sahabat di mana mereka satu sama lain saling mengingatkan tanpa harus menjadikan kebiasaan ini menjadi core business sebuah institusi. Cobalah mulai mempercayai institusi Kepolisian, Kejaksaan, dan lembaga pengawasan lainnya. Berikan amanah pada mereka, dan berikan kesempatan pada mereka untuk melakukan introspeksi, pengendalian internal dan self recovery melalui capacity building yang mereka kembangkan. Biarkan efek domino kepercayaan mengalir dan menjalar ke seluruh Indonesia sehingga lembaga pengawasan akan semakin berkurang dan cost pengawasan dapat digunakan sebagai pembangunan moral dan mental yang berkelanjutan

Laporan Arus Kas


“Laporan Arus Kas digunakan untuk mengetahui dari mana kas (sumber dana) berasal dan untuk apa digunakan”. Kutipan itu saya ambil dari mata kuliah financial accounting-IFRS, Kieso, chapter 13 dan merupakan salah satu kegunaan Laporan Arus Kas. Sebenarnya statement di atas bukan merupakan sesuatu yang orisinil karena pada pelajaran tauhid, khususnya tentang salah satu pertanyaan di alam kubur kelak ada pertanyaan dari malaikat yang bertanya tentang harta dari mana kita dapatkan, dan untuk apa kita habiskan.

Pelajaran yang kita dapatkan dari pertanyaan malaikat kepada setiap manusia kelak adalah banyak dan sedikitnya harta bukanlah suatu hal yang fundamental, karena malaikat tidak akan bertanya “kamu masuk dalam urutan keberapa orang terkaya di Asia, atau di Eropa atau di dunia, tapi lebih menekankan bagaimana kita memperoleh harta dan bagaimana mengatur harta tersebut. Kalau dicermati dengan seksama, jelaslah kalau Allah lebih concern pada suatu proses bukan hasil, pada kualitas bukan kuantitas. Nah sahabat, jadi jangan pernah berfikir untuk menumpuk harta kekayaan sampai nama kita masuk top list orang terkaya di Asia atau dunia, karena hal itu perbuatan sia-sia. Semakin Anda bagikan, dermakan kepada orang yang membutuhkan, maka semakin berharga nilai dan posisi kita di mata Allah.

Syukur


Aksioma:

Jasad manusia berasal dari sari pati tanah –tools yang terbentuk berupa syahwat-berpotensi menimbulkan kehinaan dan keburukan-dinilai sebagai dosa yang berakumulasi mendatangkan murka sehingga diganjar dengan siksa di neraka

Ruh berasal dari tiupan Allah atau kasih sayang Allah-tools yang terbentuk berupa akal-berpotensi menimbulkan kemulyaan dan kebajikan-dinilai sebagai pahala berakumulasi mendatangkan ridho sehingga diganjar dengan kesenangan di surga

Keadilan Allah telah membentuk suatu rumus ketidakseimbangan. Dalam kajian filsafat dan etika, adil memang belum tentu merata, begitupun di mata Allah ketidakseimbangan merupakan keadilan. Ruh yang bersifat abadi disandingkan dengan jasad yang bersifat fana. Ruh tidak sama dengan jasad bahkan ruh lebih besar baik dari sudut potensi maupun dari sudut kekekalan dibandingkan jasad. Rumus ini merupakan kemestian karena kasih sayang Allah yang melebihi murka-Nya. Maka sungguh sangat merugi bila ada manusia yang tidak memanfaatkan potensi ruhiyahnya dan tidak mengembangkan potensinya sampai pada titik yang tidak terbatas, karena sejatinya potensi ruh adalah potensi yang tidak terbatas.

Dari makro kosmik yang berupa alam semesta, manusia tidak perlu susah payah memciptakan langit dan bumi beserta isinya untuk mereka tinggal dan berkembang biak. Manusia hanya diminta sebagai khalifah, pemelihara kelangsungan seluruh entitas yang tinggal hanya di permukaan bumi. Maka nikmat Tuhan yang mana yang mau kita ingkari ….. ?

Dari mikro kosmik yang berupa diri pribadi, manusia tidak perlu susah payah menciptakan dirinya sendiri, manusia hanya diminta untuk berusaha tapi ketetapan dan ridho hanya milik Allah tatkala memilih kita di antara milyaran sel sperma yang saling berlomba untuk membuahi sel telur. Bila menggunakan pendekatan probabilitas, maka terlalu kecil kemungkinan bagi setiap sel sperma untuk dipilih bila bukan karena kasih sayang-Nya. Maka nikmat Tuhan yang mana yang mau kita ingkari …… ?

Dari perspektif learning and growth, kemampuan otak manusia yang dapat menerima setiap informasi dan mengolah akumulasi informasi tersebut melalui katagorisasi, klasifikasi, hingga falsifikasi. Dengan demikian akan nampak segala sesuatu sesuai dengan kesejatiannya dalam wujud paradox; hitam atau putih, gelap atau terang, salah atau benar, kehinaan atau kesucian, murka atau ridho sehingga pada akhirnya kita-pun akan memilih entitas yang lebih abadi yaitu putih, terang, benar, kesucian dan ridho. Hal ini merupakan kemestian karena ruh pada bentuk aslinya adalah sesuatu yang yang pro pada kebenaran, kesucian dan keridhoan, sedangkan ketiadaannya baru memunculkan kegelapan, kesalahan dan kemurkaan. Maka dapat disimpulkan bahwa default potensi yang akan kita jumpai menjelang akhir hayat hidup manusia adalah kesalehan, kebajikan dan segala perbuatan yang mendatangkan keridhoan-Allah. Maka nikmat Tuhan yang mana yang mau kita ingkari …… ?

Dari pespektif wujud, Tidak mungkin ada dua entitis yang sesuai secara mutlak. Karena sejatinya entitas yang mewujud itu berbeda. Suatu kemustahilan apabila ada dua entitas yang mewujud secara identik baik dari sudut pandang eksoteris yang bersifat fisik, maupuun dari sudut pandang esoteris yang bersifat non fisik. Maka dirimupun akan bermakna di mata entitas lainnya karena kesempurnaan diri kamu ada pada diri saya, dan kesempurnaan diri saya ada pada dirimu. Maka nikmat Tuhan yang mana yang mau kita ingkari …… ?

Hikmah

Sungguh … kehidupan merupakan kenikmatan tertinggi yang dianugerahkan Allah kepada setiap hamba-Nya, apa yang dapat kau persembahkan sebagai balasanmu atas segala nikmat yang diberikan, Berapapun keras usaha dan pengabdian yang kita persembahkan, tentu tidak akan pernah dapat menebus kenikmatan yang telah kita rasakan

Laron


Laron…
mengapa dirimu kerap datang ketika hujan menjelang
mengapa dirimu menghampiri lentera-lentara dan menutupi cahaya
apakah kau mencari cahaya atau kau ingin bertemu inti cahaya
mana yang kau rindu bersama cahaya sejenak dan dirimu sulit menjejak
ataukah bersatu bersama inti cahaya di mana dirimu lebur menyatu

Begitu cepat kau mengepakkan sayap
hanya untuk sekedar bertahan dalam pelukan cahaya dibarisan terdepan
berhimpitan berdesakan pada akhirnya sayapmu pun patah
berjatuhan berserakan dan kau pun terjerembab jatuh menuju tanah
tidakkah kau menyesal wahai pencari cahaya…

tidak…
Hamba tidak pernah menyesal
usaha hamba telah maksimal dipenghujung senja
hamba tahu bahwa hidup hamba hanya sebatas hujan
hamba tahu kemana harus berlabuh dan menetap
hamba sudah bertemu Sang Pemilik Cahaya kehidupan
bersamanya hamba dan dirimu berlabuh menuju kedamaian

Kita semua berlomba menuju cahaya
berduyun duyun mencari sang pemilik cahaya
cahaya yang diwujudkan terasa hangat mendera
yang hanya dapat ditangkap oleh hati tanpa noda

bila al-Quran adalah cahaya kehidupan
maka jangan kau tinggalkan
bila orang-orang solih adalah pantulan inti cahaya
maka jangan kau sia-siakan

Mereka adalah pintu gerbang menuju inti cahaya
inti cahaya yang kita idam-idamkan
untuk larut dan melebur bersamanya
dalam kehdidupan setelah kematian

Memberilah


Memberilah…
Karena eksistensi manusia diwujudkan dengan pemberian
Pemberian adalah simbol eksistensi dan wujud konkrit dari keberadaan dirimu
Tanpa memberi, maka dirimu kan menuju kefanaan
Jangan biarkan dirimu diabaikan bahkan diacuhkan, biarkan pemberian itu mengukir namamu sepanjang sejarah yang tak terlupakan

Qana’ah


Ya Rabbi…anugerahkan kepada ku kenikmatan merasa cukup dalam materi, karena sejatinya diriku kan merasa resah jika kau berikan kelebihan apalagi kekurangan
namun anugerahkan kepadaku kehausan kan immateri, agar aku senantiasa merasa tidak cukup dan selalu mencari diri-Mu dalam perjalanan singkatku menuju diri-Mu…amin

menikmati takdir


kehidupan apakah lingkaran dan pertemuan dari segala sesuatu yang bebas tak terkendali
atau perencanaan dan kepastian dari segala sesuatu yang diharapkan
bila sesuatu yang kau alami tidak sesuai harapan, maka lepaskanlah…

kita semua memang mengharapkan yang terbaik
menginginkan yang terindah
mendambakan sesuatu, seseorang bahkan Tuhan yang paling ideal
harapan dan keinginan hanya terwujud dalam alam maksud
biarlah ia tumbuh, berkembang mengikuti alam imaginasi
karena dalam alam itu segala sesuatu tak dapat dibatasi

tapi bila hal itu tidak terjadi…
janganlah engkau bersedih wahai saudaraku
karena tidak terjadinya harapanmu, impianmu, keinginanmu bukan hanya terjadi pada engkau
kita semua punya mimpi, kita semua punya keinginan, kita semua punya harapan
yang tidak terwujud sama seperti dirimu

memang pada mulanya engkau merasakan ketidak adilan, penindasan, keterasingan dan ketidak percayaan
tapi itu semua harus terjadi…
karena sejatinya, itu merupakan episode kehidupan yang terbaik yang harus kita lalui
yang harus kita jalani dan sikapi penuh arti
sikapilah dengan penuh pertimbangan, penuh kerendahan, penuh kesabaran dan yakinlah
itu merupakan keadilan buat semua, tidak hanya engkau tapi seluruh alam semesta

Antara aku dan Engkau


ketika aku hidup kenapa Engkau mati
ketika aku ada kenapa Engkau tiada
ketika aku menjelma, maka diri-Mu menghilang
ketika aku me-wujud, maka diri-Mu mulai maujud
ketika diriku maujud, maka Engkau menjadi Wujud

bagaimana diriku menjadi ada dan Engkaupun Ada
bagaimana agar aku menjadi wujud dan Engkaupun Wujud
bagaimana agar aku bereksistensi dan kita ber-imanen tanpa batas
bagaimana agar kita bersama dan menafikan ruang dan waktu

semua cara telah kulalui…
kucoba dekati Engkau melalui pintu ampunan-Mu
rasanya seperti hamba terhadap tuannya
kucoba dekati Engkau melalui ketakutan terhadap murka-Mu
rasanya seperti budak terhadap majikannya
kucoba dekati Engkau dengan penuh harap terhadap surga-Mu
rasanya seperti pengusaha yang gemar menimbang labanya
kucoba dekati Engkau melalui pintu ke-zuhud-an
rasanya seperti kefakiran tanpa pertimbangan
kucoba dekati Engkau melalui pintu permohonan
rasanya seperti pengemis yang selalu kekurangan
kucoba mendekati Engkau dengan penuh rasa kecukupan
rasanya seperti saudagar kaya yang tidak membutuhkan Engkau
padahal aku adalah hamba yang membutuhkan Engkau
meskipun kutahu Engkau tidak membutuhkan aku

akhirnya aku menyerah…
Kau tidak pernah bersamaku ketika aku berbeda dengan diri-Mu
aku bukanlah diri-Mu dan Kau bukanlah diriku
aku hanya ciptaan dan Engkau adalah Pencipta
aku hanya rindu kembali kepada-Mu
pulang ke dalam diri-Mu
karena Kau yang meniupku dan Engkau pula yang kan menghirupku
untuk kembali bersama-Mu tanpa batasan ruang dan waktu
karena aku adalah diri-Mu, tapi Kamu bukanlah aku