“Bila tidak ada yang mengisinya, KPK sebaiknya dibubarkan”, dikutip dari pernyataan Ketua DPR RI-periode 2010-2014, Dr. Marzuki Ali. Pernyataan yang demikian sederhana namun mampu mendatangkan kecaman yang luar biasa. Coba tengok beberapa komentar dari para tokoh seperti Febri Diansyah, peneliti ICW yang menyebut logika Marzuki ini telah jungkir balik, bahkan ada beberapa pernyataan masyarakat melalui akun twitter yang ditayangkan di TV One yang meminta dari pada membubarkan KPK lebih baik membubarkan DPR.

Bila saya diminta berkomentar terhadap pernyataan Marzuki Ali, maka saya sangat setuju dengan syarat. Saya sangat menyadari bahwa perspektif yang dibangun dari ide pengawasan lahir karena sejatinya manusia mempunyai resiko melakukan kesalahan, jadi perlu diawasi dan diingatkan. Dengan demikian institusi-institusi yang inti programnya berupa pengawasan merupakan suatu yang sine qua non, menjadi sesuatu yang harus ada. Tapi tidakkah kita berfikir lebih mendalam bahwa ide ini telah memunculkan distrust di tengah-tengah kita. Apa jadinya bila kita membangun sebuah peradaban bila satu sama lain tidak ada yang saling mendukung melainkan saling curiga. Berapa cost yang harus dikeluarkan dari ketidakpercayaan ini, terlalu besar dan terlalu berharga untuk dibebankan pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara. Pengawasan yang lahir dari ketidakpercayaan hanya akan memunculkan ketidakpercayaan. Maka tidaklah heran bila lembaga pengawasan di Indonesia sangat banyak bak jamur yang terus berdiaspora. Sungguh ironi bila kita mengetahui dana yang seharusnya untuk biaya pembangunan harus habis terserap pada sektor pengawasan. Terlebih efek domino yang ditimbulkan dari ketidakpercayaan yang selalu melahirkan ketidakpercayaan, dari satu institusi pengawasan yang harus diawasi oleh institusi pengawasan lainnya tanpa ada titik akhir. Seperti angka 1 (satu) ketika harus dibagi 0 (kosong)

Maka pernyataan Marzuki menjadi oase yang akan meredakan kedahagaan di antara kita. Kehausan akan kepercayaan dan amanah dari seseorang. Sudah saatnya kita membangun saling percaya di antara kita. Ada baiknya bila kita mau memperbaiki diri kita sendiri daripada diperbaiki oleh orang lain. Introspeksi, pengendalian internal, dan self recovery bukankah suatu yang fitrah yang dimiliki setiap manusia yang mempunyai budi. Bila dahulu rasul mengajarkan para sahabatnya terminologi ihsan yang menyebutkan “kondisi atau kapasitas di mana kita dapat merasakan dan melihat kehadiran Tuhan, namun bila kita tidak sampai pada kondisi ini maka kita harus yakin bahwa Tuhan selalu melihat dan mengawasi kita” dan juga praktik yang dilakukan para sahabat di mana mereka satu sama lain saling mengingatkan tanpa harus menjadikan kebiasaan ini menjadi core business sebuah institusi. Cobalah mulai mempercayai institusi Kepolisian, Kejaksaan, dan lembaga pengawasan lainnya. Berikan amanah pada mereka, dan berikan kesempatan pada mereka untuk melakukan introspeksi, pengendalian internal dan self recovery melalui capacity building yang mereka kembangkan. Biarkan efek domino kepercayaan mengalir dan menjalar ke seluruh Indonesia sehingga lembaga pengawasan akan semakin berkurang dan cost pengawasan dapat digunakan sebagai pembangunan moral dan mental yang berkelanjutan

About nahawan

seseorang yang tertarik dengan alam imaginal tapi terjebak dalam alam fana... berusaha mencari titik temu dan ingin melesat dalam nirwana yang kini kelabu dan penuh sembilu.... @sulaeman79

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s